A. Pengertian
Kiblat
Secara etimologis (bahasa) Kata qiblat
berasal dari kata : قبلة diambil dari mashdar
قبل – يقبل – قبلة yang berarti menghadap
Kata qiblat
dalam Al-Qur’an mempunyai beberapa arti :
#Arah yang paling dekat menuju ka’bah
#Arah dimana kaum muslimin menghadapkan wajah
ketika shalat
l Kata
kiblat yang berarti arah :
سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ
مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا
قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي
مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
(
البقرة : 142)
Artinya: Orang-orang yang
kurang akalnya[93] diantara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan
mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka Telah
berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan
barat; dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang
lurus"[94].
l Kata
kiblat yang berarti tempat shalat :
وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ
أَنْ تَبَوَّآَ لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتًا
وَاجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
(يونس
: 87)
Artinya: Dan kami wahyukan
kepada Musa dan saudaranya: "Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di
Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu
tempat shalat dan Dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah orang-orang
yang beriman".
Jadi, arah kiblat adalah arah
terdekat seseorang menuju ka’bah dan setiap muslim wajib menghadap ke arahnya
saat mengerjakan shalat dimana pun berapa.
A.
DALIL SYAR’I
Banyak Ayat al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW yang
menjelaskan tentang keharusan seorang muslim untuk menghadap Kiblat ketika
melaksanakan shalat. Berikut ini adalah sebagian dalil Syar’i yang berhubungan
dengan Kiblat kaum Muslimin.
Al Baqarah: 144
قَدْ
نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاء فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا
فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّواْ
وُجُوِهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوْتُواْ الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ
أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
Al Baqarah: 150
وَمِنْ
حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِنَّهُ لَلْحَقُّ
مِن رَّبِّكَ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Dan
dari mana saja kamu keluar (datang), Maka Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil
haram, Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu.
dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.
اذا قمت الى الصلاة فاسبغ
الوضوء ثم اسقبل القبلة فكبر
”Bila kamu hendak melaksanakan shalat maka sempurnakanlah wudlu
lalu menghadaplah ke kiblat, kemudian bertakbirlah!”
ان النبي صلى الله عليه وسلم
لما دخل البيت دعا فى نواحيه ولم يصل فيه حتى خرج ركع ركعتين فى قبل القبلة وقال
هذه القبلة
”Sesungguhnya Nabi SAW ketika masuk ke Baitullah beliau
berdo’a di sudut-sudutnya, dan tidak shalat di dalamnya sampai beliau keluar.
Setelah keluar beliau shalat dua raka’at di depan Ka’bah dan berkata: ”Inilah
Kiblatku”
ما بين المشرق والمغرب قبلة
”Diantara Timur dan Barat terdapat Kiblat”
البيت قبلة لاهل المسجد والمسجد قبلة لاهل الحرم
والحرم قبلة لاهل الارض في مشارقها ومغاربها
”Baitullah adalah kiblat bagi orang-orang di Masjidil
haram. Masjidil Haram adalah kiblat bagi orang-orang penduduk Tanah Haram
(Makkah). Dan Tanah Haram adalah kiblat bagi semua umatku di bumi, baik di
Barat maupun di Timur”
B.
Pendapat Ulama Tentang Arah
Kiblat
Semua
ulama madzhab sepakat bahwa ka’bah itu adalah qiblat bagi orang yang dekat dan
dapat melihatnya. Tetapi mereka berbeda pendapat tentang qiblat bagi
orang yang jauh dan tidak dapat melihatnya
Bagaimana Komentar Ulama tentang orang yang jauh dan tidak Melihat Ka’bah ?
l Imam As Syafi’i & Syi’ah Imamiyah:
§ Wajib menghadap ka’bah itu sendiri, baik bagi orang yang dekat maupun
yang jauh.
§ Kalau dapat mengetahui arah ka’bah itu sendiri secara pasti (tepat),
maka ia harus menghadap ke arah tersebut.
§ Apabila tidak, maka cukup dengan perkiraan saja.
l Imam Hambali, Maliki, Hanafi & sebagian ulama
Syi’ah Imamiyah:
§ Arah qiblat adalah arah dimana letaknya ka’bah
berada, bukan ka’bah itu sendiri.
C.
Hukum Menghadap Kiblat
Wajib
‘Ain
Karena
shalat tidak akan sempurna tanpa menghadap qiblat secara tepat
Dalam Sebuah Qaidah Usul Fiqh ما لا يتم الواجب الا به فهو وجاب (Perkara yang menjadi penyempurna dari perkara wajib, hukumnya juga wajib)
adalah; Segala perkara yang menjadikan suatu amal
kewajiban tak dapat dikerjakan sama sekali atau bisa dikerjakan namun tidak
sempurna kecuali dengan juga mengerjakan perkara tersebut, maka perkara
tersebut yang asalnya tidak wajib, dihukumi wajib pula.
Mengapa
harus dengan pendekatan matematis dalam menetukan arah qiblat ?
l Selama ada cara yang lebih akurat mengapa memilih cara lain yang kurang
akurat
l Dalam sebuah qaidah ushul fiqh
لا عبرة بالظن البين خطؤه (Perkiraan tidak dianggap apabila sudah jelas kesalahannya)
Wajib melakukan upaya maksimal dalam menentukan arah qiblat
l Wajib meluruskan arah qiblat
l Ijtihad dengan dalil dzanny jika memang tidak
memungkinkan dengan dalil qath’iy
D.
MENGHITUNG ARAH
KIBLAT
1.
MENGHITUNG SUDUT
ARAH KIBLAT
Lokasi : Kota Langsa
1. Data:
a. Lintang
Tempat Langsa (φB) : 4°28’
Bujur Tempat Langsa (λB) :
97° 58’
b. Lintang
Mekkah (φA) :
21°25’21.39”
Bujur Tempat Mekkah (λA) :
39° 49’ 34.2”
Cara I :
1. Mencari Selisih
Bujur (SB)
SB =
λB – λA
= 97° 58’ - 39° 49’ 34.2”
= 58° 8’ 25.8”
2. Menghitung
arah kiblat
Rumus : Tan Q = sin
SB
(cos φB tan φA )
- (sin φB cos SB
= sin 58° 8’ 25.8” (cos 4°28’ x tan 21°25’21.39”) –
(sin 4°28’x cos 58° 8’ 25.8”)
= 0.849345006
0.391159332 – 0.041107555
= 0.849345006
0.350051777
= 2.426341078
Tan
Q (U-B) = 67° 36’ 4.77”
Dibulatkan = 67° 36’
(B-U) = 900 - 67° 36’
4.77”
Q (B-U) = 22° 23’ 55.23”
Dibulatkan = 22° 24’
Cara II :
1. Mencari nilai
sisi a, b dan sudut c
a = 90° - φB = 90° - 4° 28’ =
85° 32’
b = 90° - φA = 90° - 21° 25’ 21.39” = 68° 34’ 38.61”
c = λB – λA =
97° 58’ - 39° 49’ 34.2” = 58° 8’
25.8”
2. Mencari nilai
p
tan p = tan b cos c
=
tan 68° 34’ 38.61”
x cos 58° 8’ 25.8”
=
1.345321233
p = 53° 22’ 33.44”
3. Mencari nilai
(a-p)
a = 85° 32’
p = 53° 22’ 33.44” –
= 32° 9’ 26.56”
4. Menghitung
arah kiblat
Rumus :
Cotan Q = Cotan c sin (a-p) : sin p
= Cotan 58° 8’ 25.8” x sin 32° 9’ 26.56” : sin
53° 22’ 33.44”
= 0.412143188
Q (U-B) = 67° 36’ 4.77”
Dibulatkan = 67° 36’
(B-U) = 900 - 67° 36’ 4.77”
Q (B-U) = 22° 23’ 55.23”
Dibulatkan = 22° 24’
2. MENCARI TITIK UTARA SEJATI
Untuk menentukan Titik Utara sejati
dapat dilakukan dengan dua cara; pertama dengan alat bantu kompas, dan kedua
dengan bayang-bayang tongkat istiwa’. Cara yang paling mudah dan murah
dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi adalah dengan cara bayang-bayang
tongkat istiwa’. Sebab dengan cara ini hanya membutuhkan alat-alat
sederhana dan berhubungan secara langsung dengan alam (sunnatullah).
Sedangkan dengan alat bantu kompas
masih memerlukan koreksi-koreksi, sebab kompas sangat peka dengan bahan logam
serta berhubungan dengan medan magnit. Oleh karenanya dalam menentukan titik Utara
sejati memakai kompas diperlukan kecermatan tersendiri dengan alat yang disebut
dengan Magnetic Variation, sebuah alat yang dapat mengkonfirmasi berapa
koreksi terhadap yang harus dilakukan pada tempat yang mau diukur.
Adapun langkah-langkah menentukan
titik Utara Sejati dengan cara bayang-bayang istiwa’ sebagai berikut:
Buatlah lingkaran pada bidang yang
benar-benar datar dengan diameter tertentu, misalnya 25 cm. Kemudian pada titik
pusat lingkaran tersebut tancapkan tongkat yang benar-benar lurus dalam keadaan
tegak lurus (tongkat istiwa’) dengan panjang, misalnya 50 cm dan
diameter 1 cm. Pada siang hari, amatilah bayang-bayang tongkat tersebut pada
sebelum dan sesudah kulminasi (matahari pas di tenga-tengah).
Ketika ujung bayang-bayang
tongkat menyentuh garis lingkaran, berilah titik pada garis lingkaran itu.
Lakukan hal ini dua kali pada sebelum dan sesudahnya kulminasi. Jika
kedua titik tersebut dihubungkan dengan garis lurus, maka garis tersebut adalah
garis Timur-Barat. Dengan membuat garis tegak lurus pada garis Timur dan Barat
inilah diperoleh garis yang mengarah ke titik Utara Sejati.
3. METODE PENGUKURAN ARAH KIBLAT
Jika
perhitungan arah Kiblat sudah diperoleh maka pengukuran di lapangan dilakukan
langkah-langkah sebagai berikut, di antaranya:
1. Dengan
Alat Bantu Busur Derajat
a. Pilih tempat yang datar dan rata.
b. Tentukan titik Utara (U) dan Selatan (S) sejati,
hubungkan sehingga menjadi sebuah garis.
c. Tentukan sebuah titik pada garis U-S tersebut, misalnya
titik A
d. Letakkan titik pusat Busur Derajat pada garis U-S dengan
menempat angka 0 di titik U dan lengkung Busur Derajat di sebalah Barat
e. Tentukan suatu titik pada Busur Derajat tersebut,
misalnya titik K, tepat pada angka sebesar derajat sudut arah kiblat tempat
bersangkutan, misalnya untuk Kota Langsa pada angka 67° 36’ 4.77”
f. Angkat kembali Busur Derajat tersebut, lalu hubungkan
titik A dengan titik K. Garis A-K inilah arah Kiblat tempat tersebut.
2. Dengan Teori Segitiga
Siku-Siku
A.
Perhitungan Melalui Titik Utara - Selatan
a.
Pilih tempat
yang datar dan rata
b.
Menentukan
titik Utara (U) dan Selatan (S) sejati, baik dengan kompas maupun sinar
matahari dengan panjang tertentu, misalnya
50 cm
c.
Dari titik U
(Utara) ditarik garis tegak lurus ke arah Barat, misalnya garis B-C, yang panjangnya
sebesar tangens sudut arah Kiblat dikalikan panjang garis B-A itu. Untuk
Kota Langsa, jika garis B-A panjangnya 50 cm, maka garis B-C panjangnya sama
dengan tangens 67° 36’ 4.77” x 50 cm =
121,3170559 cm
d. Hubungkan titik A dan titik C dengan sebuah garis, maka
garis A-C adalah garis yang mengarah ke Kiblat. Seperti pada gambar di bawah
ini:
B. Perhitungan Melalui Titik
Barat-Timur
a.
Buatlah garis dari Timur ke Barat misalnya sepanjang 10 cm (garis X-Y).
b. Kemudian buat garis tegak
lurus dari titik Y ke arah utara sepanjang hasil dari perhitungan Tan sudut
kiblat B-U yaitu 22°
23’ 55.23” x 10 cm (panjang X-Y). Hasilnya adalah 4.12143203 cm,
dibulatkan 4 cm. Garis ini kita beri nama Y-Z.
c. Tarik garis dari titik X-Z.
Garis X-Z inilah arah kiblatnya.
Z
4 cm
Y X
10 cm
E.
BAYANG-BAYANG KIBLAT
Kota
Langsa, tanggal 19 Nopember 2012
Data:
1. Lintang
Tempat Langsa (φ) :
4°28’
2. Dekilinasi (δ) :
-19°29’56”
3. Eqn of time
(e) :
14’39”
4. Arah Kiblat
(Q) :
67°36’
5. Korwib =
bujur standar – bujur tempat
= 1050 - 97° 58’
= 7° 2’ 0” : 15
= 0° 28’ 8”
Rumus:
Tq = WK + M
M = f-q
Cotan
f = tan Q sin φ
Cos q
= cos f cotan φ tan δ
Keterangan:
Tq = waktu terjadinya bayang-bayang
kiblat
WK = waktu kulminasi = 12j –
e
M = Busur Meridian suatu tempat
sampai matahari di mana bayang-bayang kiblat
terjadi ketika itu.
f = sudut waktu
q = sudut bantu
Q = arah kiblat suatu tempat/ besar
sudut B tempat itu.
Penyelesaian
1. Cotan f = tan Q sin φ
= tan 67° 36’ x
sin 4°28’
= 0.188948858
=
79°18’0.62”
2. Cos q = cos f cotan φ tan δ
= cos 79°18’0.62” x Cotan 4°28’ x tan -19°29’56”
= - 0.841602249
q =
147°18’34.9”
3. M = f-q
= 79°18’0.62” -
147°18’34.9”
= - 68°0’34.28”
Dijadikan
jam = 15 :
M = - 4j 32’2.29”
4. WK = 12j – e
= 12j
– 14’39’
= 11j
45’21”
5. Tq = WK + M
= 11j 45’21” + (-) 4j 32’2.29”
= 7j 13’18.71”
Ditambah
Korwib = 0j 28’ 8” +
= 7j 41’ 26.71”
Dibulatkan = 7j 41’ WIB.
F.
POSISI
MATAHARI DI ATAS KA’BAH PADA SAAT KULMINASI
Selain dengan cara perhitungan, untuk mengetahui arah
Kiblat juga dapat dilakukan dengan cara mencari bayang-bayang matahari ketika
matahari di atas Ka’bah. Posisi matahari di atas Ka’bah ini terjadi ketika
deklinasi (kemiringan) matahari sebesar lintang tempat Ka’bah (21°
25' LU) serta ketika matahari berada
pada titik kulminasi atas dilihat dari Ka’bah (39°
50' BT).
Untuk daerah yang mengalami siang bersamaan
dengan Mekkah (Indonesia Barat, Asia Tengah, Eropa, Afrika) silakan gunakan
jadwal berikut ini untuk menentukan arah kiblat.
26 – 30 Mei, pukul 16:18 WIB
(09:18 UT/GMT)
14 – 18 Juli, pukul 16:27 WIB
(09:27 UT/GMT)
Untuk daerah yang mengalami siang
berlawanan dengan Mekkah (Indonesia Timur, Pasifik, dan benua Amerika) silakan
gunakan jadwal berikut ini untuk menentukan arah kiblat menurut waktu setempat
(konversikan WIB atau UT ke waktu local).
12 – 16 Jan, pukul 04:30 WIB (11 –
15 Jan , 21:30 UT/GMT)
27 Nov – 1 Des, pukul 04:09 WIB
(26 – 30 Nov, 21:09 UT/GMT)
Rentang waktu plus/minus 5 menit
masih cukup akurat. Arah kiblat adalah dari tongkat ke ujung bayangan.
Untuk WIB secara rinci ini
terjadi pada setiap:
a.
Tanggal 28
Mei (jam 11j 57m 16d LMT atau 09j 17m 56d
GMT)
b.
Tanggal 16
Juli (jam 12j 06m 03d LMT atau 09j 26m 43d
GMT)
Apabila
dikehendaki dengan waktu yang lain, maka waktu GMT tersebut harus dikoreksi
dengan selisih waktu di tempat yang bersangkutan (misalnya WIB selisih 7 jam
dengan GMT)
Contoh: Tanggal 28 Mei jam 09j 17m 56d
GMT + 7 = 16j 17m 56d
WIB
Tanggal
16 Juli jam 09j 26m 43d
GMT + 7 = 16j 26m 43d
WIB
Jadi pada
setiap tanggal 28 Mei jam 16 : 17 : 56 WIB atau tanggal 16 Juli jam 16 : 26 : 43, WIB semua
bayangan benda yang tegak lurus dipermukaan bumi menunjukkan arah Kiblat.
Kecuali pada tahun kabisat. Tahun
kabisat merupakan tahun dimana bulan Februari mempunyai jumlah hari 29 hari
(bukan 28 hari). Maka pada tahun-tahun tersebut matahari akan tepat berada di
atas ka’bah pada tanggal 27 Mei pukul 16.18 WIB (sudah dibulatkan) dan pada
tanggal 15 Juli pukul 16.27 WIB (sudah dibulatkan).