Jumat, 12 Juni 2015

JULUKAN itu TIDAK SELALU BURUK



Oleh: Nur Anshari
Perkataan adalah doa, suka banget dengan kata ini. Kata yang masuk ke dalam relung hati, pikiran, dan perbuatanku. Kisah yang akan aku ceritakan kali ini merupakan kisah nyata. Kisah seorang gadis yang pendiam, lugu, dan penyendiri, serta tak pandai bergaul kemudian dengan keberanian, dan dukungan keluarga dan temannya ia berhasil meraih cita-citanya.

Sebut saja gadis itu Bunga. Ia semenjak SD mempunyai banyak talenta. Jiwa kepercayaan diri muncul dalam dirinya. Sifatnya yang periang, ramah, dan mudah senyum menjadi kesenangan teman-temannya ketika bersamanya. Alhasil, dia pun jadi banyak teman.

Seiring berjalannya waktu, Bunga sudah tamat SD dan harus masuk SMP. Inilah saat dimana sifat Bunga mulai berubah. Teman-teman SDnya tidak melanjutkan ke tingkat SMP, tetapi lebih banyak yang masuk pesantren. Bunga sendirian masuk ke SMP Negeri. Ia merasa sepi. Tak punya teman. Jadilah Bunga tak pandai bergaul, sebab di SMPnya anaknya berasal dari keluarga kaya. Anak-anaknya pun pintar-pintar. Bunga jadi minder dan memilih untuk menyendiri.

Di kelas satu SMP, asli. Bunga tak berani menegur teman sekelasnya. Bahkan untuk sekedar meminjam pulpen yang sudah macet pun Bunga tak berani. Akhirnya, ada teman yang baik hati mengajak Bunga berteman. Sebut saja Rini.

“Bunga, sini gabung sama kami.” Ajak Rini
“hmm… apa?”
“ia, gabung duduk di sini.” Sambung Anisah.
“kok sendiri di sana Bunga, sini yuk.” Ajak Melan
“iiiyyaa..”
“eh, tadi bu Guru suruh kita buat drama lho? Kamu bisa buat Bunga?” Tanya Anisah
“bisa,”
“kalau gitu, kita kerja kelompok di rumah aku yuk. Kamu mau kan jadi teman kelompok kami, Bunga?”
“mau.”
Rupanya, perkenalan itu membawa petaka. Rini dan teman-temannya hanya memanfaatkan Bunga saja. Bunga yang membuat semua kerjaan sekolah. Sementara mereka ngerumpi, gossip, de el el.

Saat jam istirahat, Bunga pergi ke kantin sendirian. Rini dan teman-temannya sibuk dengan Hp dan the genknya, Bunga tak sedikitpun dipedulikan apalagi diajak.

Bunga sendiri lagi, ia sudah biasa. Tak ada teman juga tak apa-apa pikirnya. Hingga tiba saatnya naik ke kelas dua SMP. Begitu lagi, Bunga masih susah bergaul dengan teman-teman di kelas dua. Karena siswanya berbeda dari kelas satu. Tidak sama.

Lalu, perjalanan Bunga mencari teman bisa berhasil di kelas dua? Bisa. Ada teman baik hati dan benar-benar baik hati yang mau berteman dengannya. Sebut saja Sri. Sri mendapat bangku yang sama meja dengan Bunga. Jadinya mereka berteman. Sri banyak memberikan warna dalam hidup Bunga. Sri tak hanya baik, ia yang juga mengajak Bunga berteman dengan beberapa teman di kelas itu. Kayak Silmi, Kiki, Beril, dan Jufan. Campur ada laki-laki juga. Seperti Heru, Judika.

Hidup Bunga jadi lebih berwarna dan seru. Suatu ketika, guru memberi tugas membuat drama bebas. Bunga diajak sama teman-temannya bergabung dalam kelompok. Dengan senang hati Bunga mau. Dramanya rencananya dibuat di rumah temannya, Sri. Bunga setuju. Mulai dari semuanya dikerjain bareng-bareng. Ini baru kelompok yang solid. Bunga bahagia bisa menjadi teman mereka.

Ketika hari penampilan drama diadakan di kelas itu. Semua teman-teman Bunga memperhatikan acting Bunga dalam drama. Guru juga. Dramanya berkisah tentang sekolahan. Ada guru dan murid. Bunga diberi peran sebagai guru. Bernama bu Nur. Kenapa bu Nur menjadi peran yang dimainkan oleh Bunga? Sebab nama bunga yang asli adalah Bunga Nur Cahyani. Sifat Bunga yang kalem juga pendiam tapi tegas sangat cocok menjadi sosok ibu, apalagi namanya juga ada Nur-nya yaitu Bu Nur.

Dramanya fantastis. Bunga menjadi sorotan guru yang handal dan baik. Bu Guru juga memuji acting Bunga dan teman-temannya. Kata bu Guru, bu Nur yang dimainkan oleh Bunga adalah sosok guru yang tegas tapi juga ramah, akting Bunga cukup natural. Sejak saat itu teman-teman Bunga memanggil namanya dengan Bu Nur. Bukan lagi Bunga. Ia hanya tersenyum saja dipanggil begitu. Senang. Tak apa-apa.

Pertemanan diantara Sri, Bunga, dan the CS lainnya semakin akrab. Hingga naik kelas tiga. Bahkan sampai di Sekolah Menengah Atas, mereka satu sekolah. Alhasil, panggilan Bu Nur terus saja menempel hingga bangku SMA. Bunga tak pernah mempermasalahkan itu. Bahkan julukan Bu Nur seperti vitamin yang membangkitkan semangatnya menjadi seseorang guru atau lainnya. Yang jelas, julukan Bu Nur itu bukanlah ejekan/sindiran. Itu merupakan doa.

Waktu terus berjalan, Bunga semakin bertambah usia, tentu saja pendidikannya terus berlanjut. Bunga mendapat beasiswa Bidik Misi ke Universitas di ibu kota provinsi. Orang tua, kakak, abang, adiknya, sangat senang. Apalagi Bunga. Ia berjuang sungguh-sungguh di perantauan. Julukan Bu Nur tak sampai terbang ke sana. Karena tak ada satu orang pun teman yang merantau. Bunga sendirian. Tapi ia tidak merasa sendiri. Julukan Bu Nur masih ia ingat selalu. Takkan pernah lupa. Walaupun tak bersama teman-temannya lagi.
Pertengahan 2015

Ini sudah masuk tahun 2015, bahkan udah pertengahan tahun pula. Berarti sudah setahun berjalannya waktu setelah kepulangan Bunga dari perantauan kembali ke kampong halamannya. Bunga senyum-senyum sambil berjalan menuju suatu tempat. Ketika sampai ia berhenti sejenak. Menghirup udara pagi nan bersih. Bunga berdiri tepat di depan sebuah gedung. Ada satu orang yang menegur ketika melihatnya.

“bu Nur…. Hari ini bisa masuk lebih awal bu ke kelas kami? Karena dosen kami jam pertama gak bisa masuk.”
“Bisa, InsyaAllah. Ibu masuk 10 menit lagi.”
“terimakasih bu.”
“sama-sama”

Sstt… kalau ada teman-teman yang mendapat julukan yang bagus, aamiinkan aja ya. Mana tau itu doa. Seperti kisah bu Nur.

*semua nama dikisah ini adalah  nama samaran. Kalau ada kesamaan nama itu hanya   kebetulah belaka.
*kisah nyata


Senin, 11 Mei 2015

HISAB ARAH KIBLAT


A.    Pengertian Kiblat
Secara etimologis (bahasa) Kata qiblat berasal dari kata : قبلة diambil dari mashdar
قبل – يقبل – قبلة        yang berarti menghadap 
Kata qiblat dalam Al-Qur’an mempunyai beberapa arti :            
#Arah yang paling dekat menuju ka’bah
#Arah dimana kaum muslimin menghadapkan wajah ketika shalat

l Kata kiblat yang berarti arah :
سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا
 قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
( البقرة : 142)

Artinya: Orang-orang yang kurang akalnya[93] diantara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka Telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus"[94].

l  Kata kiblat yang berarti tempat shalat :
وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَنْ تَبَوَّآَ لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتًا
وَاجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
(يونس : 87)
Artinya: Dan kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: "Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan Dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah orang-orang yang beriman".

Jadi, arah kiblat adalah arah terdekat seseorang menuju ka’bah dan setiap muslim wajib menghadap ke arahnya saat mengerjakan shalat dimana pun berapa.



A.     DALIL SYAR’I
     Banyak Ayat al-Qur’an dan Hadis Nabi SAW yang menjelaskan tentang keharusan seorang muslim untuk menghadap Kiblat ketika melaksanakan shalat. Berikut ini adalah sebagian dalil Syar’i yang berhubungan dengan Kiblat kaum Muslimin.
Al Baqarah: 144
قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاء فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّواْ وُجُوِهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوْتُواْ الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
Al Baqarah: 150
وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِنَّهُ لَلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
 
 Dan dari mana saja kamu keluar (datang), Maka Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil haram, Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.
اذا قمت الى الصلاة فاسبغ الوضوء ثم اسقبل القبلة فكبر

”Bila kamu hendak melaksanakan shalat maka sempurnakanlah wudlu lalu menghadaplah ke kiblat, kemudian bertakbirlah!”
ان النبي صلى الله عليه وسلم لما دخل البيت دعا فى نواحيه ولم يصل فيه حتى خرج ركع ركعتين فى قبل القبلة وقال هذه القبلة
”Sesungguhnya Nabi SAW ketika masuk ke Baitullah beliau berdo’a di sudut-sudutnya, dan tidak shalat di dalamnya sampai beliau keluar. Setelah keluar beliau shalat dua raka’at di depan Ka’bah dan berkata: ”Inilah Kiblatku”
ما بين المشرق والمغرب قبلة
”Diantara Timur dan Barat terdapat Kiblat”

البيت قبلة لاهل المسجد والمسجد قبلة لاهل الحرم والحرم قبلة لاهل الارض في مشارقها ومغاربها
”Baitullah adalah kiblat bagi orang-orang di Masjidil haram. Masjidil Haram adalah kiblat bagi orang-orang penduduk Tanah Haram (Makkah). Dan Tanah Haram adalah kiblat bagi semua umatku di bumi, baik di Barat maupun di Timur”

B.     Pendapat Ulama Tentang Arah Kiblat
                  Semua ulama madzhab sepakat bahwa ka’bah itu adalah qiblat bagi orang yang dekat dan dapat melihatnya. Tetapi mereka berbeda pendapat tentang qiblat bagi orang yang jauh dan tidak dapat melihatnya
Bagaimana Komentar Ulama tentang orang yang jauh dan tidak  Melihat Ka’bah ?
l  Imam As Syafi’i & Syi’ah Imamiyah:
§  Wajib menghadap ka’bah itu sendiri, baik bagi orang yang dekat maupun yang jauh.
§  Kalau dapat mengetahui arah ka’bah itu sendiri secara pasti (tepat), maka ia harus menghadap ke arah tersebut.
§  Apabila tidak, maka cukup dengan perkiraan saja.
l  Imam Hambali, Maliki, Hanafi & sebagian ulama Syi’ah Imamiyah:
§  Arah qiblat adalah arah dimana letaknya ka’bah berada, bukan ka’bah itu sendiri.
C.     Hukum Menghadap Kiblat
Wajib ‘Ain
Karena shalat tidak akan sempurna tanpa menghadap qiblat secara tepat
Dalam Sebuah Qaidah Usul Fiqh ما لا يتم الواجب الا به فهو وجاب (Perkara yang menjadi penyempurna dari perkara wajib, hukumnya juga wajib)

adalah; Segala perkara yang menjadikan suatu amal kewajiban tak dapat dikerjakan sama sekali atau bisa dikerjakan namun tidak sempurna kecuali dengan juga mengerjakan perkara tersebut, maka perkara tersebut yang asalnya tidak wajib, dihukumi wajib pula.
Mengapa harus dengan pendekatan matematis dalam menetukan arah qiblat ?
l  Selama ada cara yang lebih akurat mengapa memilih cara lain yang kurang akurat
l  Dalam sebuah qaidah ushul fiqh
لا عبرة بالظن البين خطؤه  (Perkiraan tidak dianggap apabila sudah jelas kesalahannya)

Wajib melakukan upaya maksimal dalam menentukan arah qiblat
l  Wajib meluruskan arah qiblat
l  Ijtihad dengan dalil dzanny jika memang tidak memungkinkan dengan dalil qath’iy

D.    MENGHITUNG ARAH KIBLAT
1.      MENGHITUNG SUDUT ARAH KIBLAT
Lokasi                   : Kota Langsa
1.      Data:
a.       Lintang Tempat Langsa (φB)        : 4°28’
Bujur Tempat Langsa (λB)           : 97° 58’ *
b.      Lintang Mekkah (φA)                   : 21°25’21.39”
Bujur Tempat Mekkah (λA)          : 39° 49’ 34.2” #
Cara I :
1.      Mencari Selisih Bujur (SB)
   SB    = λB – λA      
= 97° 58’ - 39° 49’ 34.2”       
= 58° 8’ 25.8”
2.      Menghitung arah kiblat
Rumus : Tan Q            =                                              sin SB                                                 
                                                            (cos φB tan φA )    -   (sin φB   cos SB         

                                    =                                        sin  58° 8’ 25.8”                                                                  (cos 4°28’ x tan 21°25’21.39”) – (sin 4°28’x cos 58° 8’ 25.8”)

                                    =                                  0.849345006                          
                                                          0.391159332 – 0.041107555

                                    =                                  0.849345006              
                                                                        0.350051777

                                    =          2.426341078
            Tan  Q (U-B)   =  67° 36’ 4.77”
            Dibulatkan      =  67° 36’
                       (B-U)    =  900 - 67° 36’ 4.77”
                 Q (B-U)      =  22° 23’ 55.23”
Dibulatkan      =  22° 24’

Cara II :

1.      Mencari nilai sisi a, b dan sudut c
a =  90° - φB               = 90° - 4° 28                         = 85° 32
b =  90° - φA               = 90° - 21° 2521.39             = 68° 3438.61
c =  λB – λA               = 97° 58’ - 39° 49’ 34.2”        = 58° 8’ 25.8”

2.      Mencari nilai p
tan p    =  tan b cos c
            =  tan 68° 3438.61 x cos 58° 8’ 25.8”
            =  1.345321233
       p   =  53° 22’ 33.44”

3.      Mencari nilai (a-p)
       a   =  85° 32
       p   =  53° 22’ 33.44” –
            =  32° 9’ 26.56”

4.      Menghitung arah kiblat
Rumus : Cotan Q        =  Cotan c sin (a-p) : sin p
                                    =  Cotan 58° 8’ 25.8” x sin 32° 9’ 26.56” : sin 53° 22’ 33.44”
                                    =  0.412143188
                Q (U-B)       =  67° 36’ 4.77”
            Dibulatkan      =  67° 36’
                    (B-U)       =  900 - 67° 36’ 4.77”
                 Q (B-U)      =  22° 23’ 55.23”
Dibulatkan      =  22° 24’

2.      MENCARI TITIK UTARA SEJATI
            Untuk menentukan Titik Utara sejati dapat dilakukan dengan dua cara; pertama dengan alat bantu kompas, dan kedua dengan bayang-bayang tongkat istiwa’. Cara yang paling mudah dan murah dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi adalah dengan cara bayang-bayang tongkat istiwa’. Sebab dengan cara ini hanya membutuhkan alat-alat sederhana dan berhubungan secara langsung dengan alam (sunnatullah).
            Sedangkan dengan alat bantu kompas masih memerlukan koreksi-koreksi, sebab kompas sangat peka dengan bahan logam serta berhubungan dengan medan magnit. Oleh karenanya dalam menentukan titik Utara sejati memakai kompas diperlukan kecermatan tersendiri dengan alat yang disebut dengan Magnetic Variation, sebuah alat yang dapat mengkonfirmasi berapa koreksi terhadap yang harus dilakukan pada tempat yang mau diukur.
            Adapun langkah-langkah menentukan titik Utara Sejati dengan cara bayang-bayang istiwa’  sebagai berikut:
            Buatlah lingkaran pada bidang yang benar-benar datar dengan diameter tertentu, misalnya 25 cm. Kemudian pada titik pusat lingkaran tersebut tancapkan tongkat yang benar-benar lurus dalam keadaan tegak lurus (tongkat istiwa’) dengan panjang, misalnya 50 cm dan diameter 1 cm. Pada siang hari, amatilah bayang-bayang tongkat tersebut pada sebelum dan sesudah kulminasi (matahari pas di tenga-tengah).
            Ketika ujung bayang-bayang tongkat menyentuh garis lingkaran, berilah titik pada garis lingkaran itu. Lakukan hal ini dua kali pada sebelum dan sesudahnya kulminasi. Jika kedua titik tersebut dihubungkan dengan garis lurus, maka garis tersebut adalah garis Timur-Barat. Dengan membuat garis tegak lurus pada garis Timur dan Barat inilah diperoleh garis yang mengarah ke titik Utara Sejati.
Picture2

















3.      METODE PENGUKURAN ARAH KIBLAT
Jika perhitungan arah Kiblat sudah diperoleh maka pengukuran di lapangan dilakukan langkah-langkah sebagai berikut, di antaranya:
1. Dengan Alat Bantu Busur Derajat
a.   Pilih tempat yang datar dan rata.
b.  Tentukan titik Utara (U) dan Selatan (S) sejati, hubungkan sehingga menjadi sebuah garis.
c.   Tentukan sebuah titik pada garis U-S tersebut, misalnya titik A
d.  Letakkan titik pusat Busur Derajat pada garis U-S dengan menempat angka 0 di titik U dan lengkung Busur Derajat di sebalah Barat
e.   Tentukan suatu titik pada Busur Derajat tersebut, misalnya titik K, tepat pada angka sebesar derajat sudut arah kiblat tempat bersangkutan, misalnya untuk Kota Langsa pada angka 67° 36’ 4.77”
f.   Angkat kembali Busur Derajat tersebut, lalu hubungkan titik A dengan titik K. Garis A-K inilah arah Kiblat tempat tersebut.

2. Dengan Teori Segitiga Siku-Siku
A. Perhitungan Melalui Titik Utara - Selatan
a.   Pilih tempat yang datar dan rata
b.  Menentukan titik Utara (U) dan Selatan (S) sejati, baik dengan kompas maupun sinar matahari dengan panjang tertentu, misalnya  50 cm
c.   Dari titik U (Utara) ditarik garis tegak lurus ke arah Barat, misalnya garis B-C, yang panjangnya sebesar tangens sudut arah Kiblat dikalikan panjang garis B-A itu. Untuk Kota Langsa, jika garis B-A panjangnya 50 cm, maka garis B-C panjangnya sama dengan tangens 67° 36’ 4.77” x 50 cm = 121,3170559 cm
d.  Hubungkan titik A dan titik C dengan sebuah garis, maka garis A-C adalah garis yang mengarah ke Kiblat. Seperti pada gambar di bawah ini:









B. Perhitungan Melalui Titik Barat-Timur
   a. Buatlah garis dari Timur ke Barat misalnya sepanjang 10 cm (garis X-Y).
b. Kemudian buat garis tegak lurus dari titik Y ke arah utara sepanjang hasil dari perhitungan Tan sudut kiblat B-U yaitu 22° 23’ 55.23” x 10 cm (panjang X-Y). Hasilnya adalah 4.12143203 cm, dibulatkan 4 cm. Garis ini kita beri nama Y-Z.
c. Tarik garis dari titik X-Z. Garis X-Z inilah arah kiblatnya.
                                                Z
 


                                                4 cm
                                                Y                     X
                                                       10 cm  

E.     BAYANG-BAYANG KIBLAT
Kota Langsa, tanggal 19 Nopember 2012
Data:
1.      Lintang Tempat Langsa (φ)                       : 4°28’
2.      Dekilinasi (δ)                                             : -19°29’56”
3.      Eqn of time (e)                                          : 14’39”
4.      Arah Kiblat (Q)                                         : 67°36’
5.      Korwib = bujur standar – bujur tempat
       = 1050 - 97° 58’
       = 7° 2’ 0” : 15
       = 0° 28’ 8”
Rumus:
Tq              = WK + M
M               = f-q
Cotan f      = tan Q sin φ
Cos q         = cos f cotan φ tan δ
Keterangan:
Tq              = waktu terjadinya bayang-bayang kiblat
WK            = waktu kulminasi = 12j – e
M               = Busur Meridian suatu tempat sampai matahari di mana bayang-bayang kiblat   terjadi ketika itu.
f                = sudut waktu
q               = sudut bantu
Q              = arah kiblat suatu tempat/ besar sudut B tempat itu.

Penyelesaian
1.      Cotan f                       = tan Q sin φ
                              = tan 67° 36’ x sin 4°28’
                              = 0.188948858
                              = 79°18’0.62”
2.      Cos q              = cos f cotan φ tan δ
= cos 79°18’0.62” x Cotan 4°28’ x tan -19°29’56”
= - 0.841602249
          q           = 147°18’34.9”
3.      M                    = f-q
= 79°18’0.62” -  147°18’34.9”
= - 68°0’34.28”
            Dijadikan jam  =                 15 :
            M                     =  - 4j 32’2.29”

4.      WK                 = 12j – e
= 12j – 14’39’
= 11j 45’21”

5.      Tq                               = WK + M
= 11j 45’21” + (-) 4j 32’2.29”
=   7j 13’18.71”
Ditambah Korwib       =   0j 28’ 8”     +
                                    =   7j 41’ 26.71”
Dibulatkan                  =   7j 41’ WIB.

F.      POSISI MATAHARI DI ATAS KA’BAH PADA SAAT KULMINASI
            Selain dengan cara perhitungan, untuk mengetahui arah Kiblat juga dapat dilakukan dengan cara mencari bayang-bayang matahari ketika matahari di atas Ka’bah. Posisi matahari di atas Ka’bah ini terjadi ketika deklinasi (kemiringan) matahari sebesar lintang tempat Ka’bah (21° 25'  LU) serta ketika matahari berada pada titik kulminasi atas dilihat dari Ka’bah (39° 50'  BT).
Untuk daerah yang mengalami siang bersamaan dengan Mekkah (Indonesia Barat, Asia Tengah, Eropa, Afrika) silakan gunakan jadwal berikut ini untuk menentukan arah kiblat.
26 – 30 Mei, pukul 16:18 WIB (09:18 UT/GMT)
14 – 18 Juli, pukul 16:27 WIB (09:27 UT/GMT)
Untuk daerah yang mengalami siang berlawanan dengan Mekkah (Indonesia Timur, Pasifik, dan benua Amerika) silakan gunakan jadwal berikut ini untuk menentukan arah kiblat menurut waktu setempat (konversikan WIB atau UT ke waktu local).
12 – 16 Jan, pukul 04:30 WIB (11 – 15 Jan , 21:30  UT/GMT)
27 Nov – 1 Des, pukul 04:09 WIB (26 – 30 Nov, 21:09 UT/GMT)
Rentang waktu plus/minus 5 menit masih cukup akurat. Arah kiblat adalah dari tongkat ke ujung bayangan.
Untuk WIB secara rinci ini terjadi pada setiap:
a.       Tanggal 28 Mei (jam 11j  57m  16d  LMT atau 09j  17m  56GMT)
b.      Tanggal 16 Juli (jam 12j  06m  03d  LMT atau 09j  26m  43GMT)
Apabila dikehendaki dengan waktu yang lain, maka waktu GMT tersebut harus dikoreksi[1] dengan selisih waktu di tempat yang bersangkutan (misalnya WIB selisih 7 jam dengan GMT)
Contoh:      Tanggal 28 Mei jam 09j  17m  56GMT + 7 = 16j  17m  56WIB
                  Tanggal 16 Juli jam 09j  26m  43GMT + 7  = 16j  26m  43WIB
Jadi pada setiap tanggal 28 Mei jam 16 : 17 : 56  WIB atau tanggal 16 Juli jam           16 : 26 : 43, WIB semua bayangan benda yang tegak lurus dipermukaan bumi menunjukkan arah Kiblat. Kecuali pada tahun kabisat.  Tahun kabisat merupakan tahun dimana bulan Februari mempunyai jumlah hari 29 hari (bukan 28 hari). Maka pada tahun-tahun tersebut matahari akan tepat berada di atas ka’bah pada tanggal 27 Mei pukul 16.18 WIB (sudah dibulatkan) dan pada tanggal 15 Juli pukul 16.27 WIB (sudah dibulatkan).      





* Lintang dan Bujur Kota Langsa diambil dari data pada BHR Provinsi Aceh.
# Lintang dan Bujur Mekkah diambil dari :  
http://www.satellitesights.com/satelliteimage/Kaaba_Makkah_Saudi_Arabia.